Beautiful Life #5: Telur Mata Sapi + Kecap + Nasi

perahukertas

Secara tidak sengaja, beberapa hari yang lalu saya menyaksikan film Perahu Kertas 1. Saya telah membaca bukunya terlebih dahulu dan sangat menyukai karakter Kugy. Dia mengingatkan saya akan mimpi, dan menulis. Rasanya saya sudah terlalu jauh keluar dari diri sendiri. Melupakan mimpi-mimpi yang saya bangun dengan harap yang melambung tinggi. Sering malah bertanya kepada diri sendiri, “habis ini mau apa?”.. Alih-alih mendapatkan jawaban, pertanyaan itu justru menelurkan pertanyaan lainnya.

Apakah kita memang bisa keluar meninggalkan jati diri kita yang sebenarnya?
Seberapa jauh?
Seberapa lama?
Kemana mimpi-mimpi itu pergi?
Apakah mereka meninggalkanku? Atau aku yang meninggalkannya?

Menulis pun menjadi kegiatan yang jarang sekali saya lakukan, kecuali untuk keperluan pekerjaan. Itu pun tidak maksimal. Jemari saya seakan mati suri menuliskan kata-kata. Imaginasi saya tetap berjalan, membuat berbagai macam cerita dan alur yang saya suka. Tapi, tetap saja, tak ada satupun yang  sayaabadikan. Dulu, saya bisa tenggelam dalam ribuan kata yang saya tulis di atas berlembar-lembar kertas. Ya, saya suka menulis manual dengan pena di atas kertas. Tangan kotor oleh tinta pena yang bocor. Berjam-jam saya habiskan menulis apa saja. Walau tangan letih, saya tidak peduli.

Mimpi dan menulis.

Menjadi penulis bukan lah impian saya. Saya tidak pernah merasa harus bermimpi untuk melakukannya. Justru saat menulis, saya membuat pikiran saya nyata. Bukankah biasanya, orang memimpikan sesuatu yang kemungkinan besar susah digapai? Bermimpi meraih nobel, liburan ke suatu pantai indah, memiliki rumah yang bagus, dan lainnya. Well, in this case, writing is something I can do. I’m not dreaming it, I’m living it.

Seperti yang diceritakan di film Perahu Kertas tadi, terkadang kita harus menjadi orang lain terlebih dahulu untuk bisa menjadi diri sendiri. So, am I doing it right? If I feel, I’m living someone else’s life, then hopefuly it will lead me back to myself soon.

Malamnya, saya yang kelaparan dan bosan dengan lauk tadi siang, mencoba sedikit kreatif mencari ide dengan membuka kulkas. Saya putuskan untuk membuat telur mata sapi dan menggoreng kentang. Kreatif, kan? hihi… Hmm, btw masih heran sampai sekarang kenapa namanya telur mata sapi? Padahal mati sapi kan warnanya bukan kuning dan bulat seutuhnya.Kenapa namanya bukan telur matahari? eh, salah ya, nanti dikira promosi pusat perbelanjaan..

anyway, the dish looked a lot like breakfast menu than supper for normal people. But, didn’t I tell you, I’m kind of abnormal? I had a sunny side and fries for supper. Lalu di atas nasi yang panas, saya membubuhkan kecap manis. dan…. tadaaaaa……. santapan ini membawa saya kembali ke 11 tahun silam! Wow, sungguh jauh. Saya ingat, 11 tahun yang lalu saya masih berumur 10 tahun dan kelas 5 SD. Beberapa minggu sekali biasanya kami sekeluarga berkunjung ke rumah Uwa (kakak dari Mama). Karena anaknya banyak, setiap pagi untuk lebih gampang biasanya mereka dibuatkan sarapan telur mata sapi dengan nasi hangat yang dilengkapi kecap manis.

telurmatasapi.jpg

AND I LOVE IT, A LOT! Setiap berkunjung ke rumah Uwa, saya hanya minta dibuatkan sajian tadi dan harus Uwa sendiri yang menggoreng telurnya. Rasanya beda dari siapapun yang menggorengnya. Telur yang digoreng Uwa rasanya paling nikmat. Saya bisa merasakan Uwa atau orang lain yang menggoreng telur itu. Padahal itu hanyalah telur biasa, but seriously it tasted different. Kalau diingat sekarang, mungkin itu ulah kekanakan dan manja saya saja sih.. hahaha…

Hebatnya sebuah makanan ternyata bisa menjadi mesin waktu yang mengantarkan saya kembali 11 tahun ke belakang. Saya mengingat seperti apa saya 11 tahun yang lalu. Saya suka menulis. Saya menuliskan apa saja yang ada di kepala, walau akhirnya saya letakkan entah dimana kertas-kertas itu. Saya juga suka bermimpi. Mimpi itu ternyata bukan mimpi menulis. Mimpi itu adalah tulisan-tulisan saya. Dari situlah asal tulisan saya. Sekarang saya mengerti,

pikiran yang awalnya hanya sebuah mimpi akan menjadi nyata saat ku rangkai dengan kata

Saya tidak perlu bermimpi untuk menjadi seseorang, mendapatkan sesuatu, atau pergi ke suatu tempat. Ternyata, mimpi sudah hidup sejak lama dalam pikiran.

Mimpi saya adalah apa yang ada dalam pikiran saya.

perahukertaspainting

Terima kasih Kugy, saya tidak akan berhenti bermimpi dan menuliskannya menjadi nyata. dan, tentunya saya sang kepiting bisa menjadi Agen Neptunus juga… teedeepp teedeepp…!

Terima kasih telur mata sapi, kecap, dan nasi. Kalian adalah mesin waktu terbaik!

Advertisements

3 thoughts on “Beautiful Life #5: Telur Mata Sapi + Kecap + Nasi

  1. boleh percaya atau enggak, dari TK hingga kelas 3 SD gw sarapan makanan yang sama seminggu 2x. Telur mata sapi pakai kecap. Bahkan gw masih sering melakukannya kalau tengah malam kelaperan. Hahaha.. sebuah makanan, gak hanya bisa jadi lorong waktu, tapi mungkin.. bisa jadi topik sederhana yang hangat. =)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s