New Title, New Age, New Challenge

Kecepetan sekolah menjadi kebanggaan tersendiri untuk saya. Salah satunya adalah hemat umur 🙂 tapi juga tidak lepas dari komentar sinis a.k.a sirik seperti:“ha? umur lo baru segini?” “kok masih muda?” “ga nyangka, kirain udah umur…”. Justru komentar tersebut saya jadikan semangat untuk membuktikan kemampuan sih.. Lulus SMA diusia saya yang baru 17 tahun, kebetulan ulang tahunnya di bulan Juni dan pergantian ajaran kan di bulan Juni – Juli. Makin lah saya hemat umur. Di kelas manapun saya selalu menjadi yang paling muda. The worst case nya, kalau sampai saya tidak naik kelas, ya ga apa-apa toh masih muda… hihi..

Waktu baru masuk kuliah, umur saya juga baruuu banget 17 tahun. Kalau dihitung kan S1 itu menghabiskan waktu selama 4 tahun, berarti saya akan lulus di umur 21 tahun. Lalu saya menantang diri sendiri untuk mendapat gelar sarjana di umur 20 tahun! Faktor bulan kelahiran ini sih yang bisa dimanfaatin.

Tiba saatnya pengerjaan skripsi, semangat banget karena ingat target mau lulus di umur 20 tahun. Long story-short, saya daftar sidang di awal Juni 2012. Sudah deg-degan sih takut ga kesampaian karena waktunya juga mepet dan memang harus disesuaikan dengan jadwal sidang di kampus. Akhirnya lagi-lagi saya beruntung! Sidang saya dilaksanakan tanggal 20-06-2012 jam 3 sore! it’s just 2 days before my 21 birthday! dan sidangnya juga jam 3 sore, just like my name 🙂 Kalau begini sih saya juga bingung antara faktor keberuntungan atau usaha yang giat..

Alhamdulillah, target tercapai! Berhasil mendapat gelar di umur 20 tahun :))

Terima kasih atas dukungan semua pihak yang terlalu panjang kalau dituliskan satu per satu, lagipula saya sudah mengucapkan terima kasih secara langsung (ini yang penting, kan?)

Ngomong-ngomong soal tantangan, menurut saya ada 2 tipe tantangan yaitu yang eksternal dan internal (maaf bahasanya berat, maklum baru lulus sidang..hehe). Nah tantangan eksternal ini yang sudah biasa kita temuin, baik dari kehidupan, pekerjaan, orang-orang sekitar ataupun lingkungan yang intinya berasal dari luar diri. Contohnya, kamu diharuskan mendapatkan klien, dsb, ini kan tantangan dari kantor. Atau diputusin pacar dan harus kembali menjadi single, ini juga tantangan dari kehidupan sekaligus orang terdekat. Tapi kalau tantangan internal, yaitu yang dalam diri, kamu menantang diri sendiri untuk melakukan sesuatu. Bisa keluar dari comfort zone, achieve new targets, etc. Bedanya dengan yang eksternal, tantangan yang berasal dari internal itu tidak ada paksaan dari orang lain, semuanya pure kemauan diri sendiri. Seperti saya menantang diri sendiri untuk lulus di umur 20 tahun karena kemauan diri sendiri, padahal lulus di umur 21 tahun pun tidak masalah.

Jarang ada orang yang berani menantang dirinya sendiri, yang ada hanya pasrah membiarkan tantangan itu menghampirinya. Emang ga cape ya ‘nerima bola’ terus? Sekali-kali rasain deh ‘ngejar bola’. Rasain prosesnya, harus lari-lari, rebutan, dll. Menurut pengalaman saya pribadi, yang terpenting sih bukan hasilnya, namun prosesnya. Saya pernah ngobrol sama salah satu teman yang sukses di pekerjaannya:

Saya: “Lo sih enak udah sukses..”

Teman: “Sukses tuh gitu-gitu aja lagi, rasanya biasa aja. Justru prosesnya yang nikmat. Emang sih sekarang gue ada uang, bisa ganti-ganti mobil terus. Tapi dulu waktu mulai usaha, gw subuh-subuh naik angkot, kabur-kaburan setiap akhir bulan karena belum ada uang buat bayar kosan. Semua kejadian itu kalo diinget nikmat!”

Waktu ngerjain skripsi, saya inget-inget terus tuh kalimatnya untuk menikmati proses. Mana nikmat sih nyari bahan susah sampai harus begadang, ngeprint tiap minggu yang menguras isi dompet, ekstra sabar  kalau banyak revisi, dll. Saat itu yang dirasain sih tersiksa, ga ada nikmat-nikmatnya. Tapi teori ‘proses lebih nikmat daripada hasil’ memang sudah saya buktikan dari dulu, jadi saya juga tidak mudah menyerah sama skripsi. Hasilnya luar biasa bahagia, but many things I discovered justru saat prosesnya.

Pesan untuk yang masih struggle sama skripsinya:

Bergalaulah, niscaya skripsimu akan cepat rampung!

Di usia saya yang baru berganti menjadi 21 tahun ini, kira-kira tantangan apa lagi yang akan saya ajukan pada diri sendiri, ya?

 

Advertisements

2 thoughts on “New Title, New Age, New Challenge

  1. wahaha. udah amaze nih sama kata-kata lulus mudanya, eh ada kalimat putus pacar. haha
    gue baru mau ngeblog ttg skripsi yg tak kunjung kelar. tapi sepertinya artikel lo ini menampar gue untuk bangun dan gak lama-lama ngikutin mood. haha

    By the way Congrats for everything and for you own challenge how if “Being a young bride” ? it sounds nice :p

    • I thank you, again, for being my loyal reader! 🙂

      ga apa el, nikmatin aja proses ngerjain skripsi in your own way… lebih nikmat dari pada hasil. tapi harus tetap jalan lho!

      errr, what was the challenge you said? Lemme find the hubby potential first, or I can start with boyfriend. right.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s