Belajar Dari Gajah

Belajar itu bisa dari mana saja, termasuk binatang. Bukan berarti kita harus bersikap seperti binatang lho… kan kita manusia, tentunya lebih bisa mikir daripada mereka. Kebetulan saya minggu lalu nonton NatGeo tentang Gajah dan mikirin mereka. Ada beberapa kejadian yang bisa dianalogikan terkait fakta-fakta menarik mengenai Gajah. Amat sangat tidak enak rasanya kalau punya informasi yang belum disebarluaskan. Walaupun saya nonton NatGeo nya minggu lalu, tapi masih kebayang-bayang buat diblog sampai sekarang. Yuk, sekalian refresh lagi pengetahuan kita tentang Gajah!

 

1. Gajah tidak punya kelenjar keringat. Kebayang ga sih kulit setebal itu tapi ternyata tidak ada kelenjar keringatnya? Trus, kenapa Gajah tetep bau yah? nah kan, saya malah jadi balik bertanya. haha.

2. Gajah dengan berat badannya, ketika berjalan dapat membuat tanah menjadi gembur. Tanah yang gembur ini dimanfaatkan tawon untuk membuat lubang agar mereka dapat bertelur. Biasanya mereka berebut dengan Jangkrik dan si Jangkrik yang sudah mati akan dikubur bersamaan dengan telur milik tawon. Tujuannya agar ketika telur itu menetas, anak-anak tawon ini mempunyai makanan, yaitu si Jangkrik. Kasian lo ‘krik…tapi paling ga lo berguna kan. The Lesson: ga ada sesuatu yang ga berguna, semuanya saling berhubungan. tapi tergantung sudut pandang kita, peluang itu digunakan untuk menguntungkan atau merugikan. Si gajah mungkin bete dengan ukuran badannya, tapi itu justru menguntungkan bagi hewan lain. Tawon pun mungkin ga tega ngebunuh jangkrik, tapi dilakukan demi anaknya yang akan lahir. Just like what people said: Life is like a coin, there are 2 sides.

3. Gajah jantan berminggu-minggu di siang dan malamnya akan mencari gajah betina yang siap kawin. Jika keadaan tetap tak stabil, ia akan terus melakukannya. The Lesson: sebenernya keadaan ini mirip salah satu teman di Twitter saya namun #nomention. haha. anyway, in real life, tidak hanya kaum jantan yang kelimpungan cari mangsa kok. demikian.

4. Gajah betina yang siap kawin akan mengeluarkan cairan yang baunya¬†irresistible bagi kaum jantan. Mereka akan melakukannya selama 45 detik, namun si betina akan mengandung anaknya selama 22 bulan. The Lesson: Kalau Anda adalah satu dari sekian banyak orang yang menganut motto “masih ada yang lebih parah dibanding gue…”, ini adalah salah satu alasannya. Perempuan sakit-sakitan 9 bulan hamil, apalagi gajah tuh 22 bulan? Suami juga pasti terpaksa puasa jatah selama beberapa bulan dan kerepotan harus terus mendampingi istri. untung ga kaya gajah, sampai 22 bulan.

5. Gajah jantan muda akan berduel untuk melihat kedudukan. Ketika ia dinilai cukup kuat, ia akan diusir dari kawanannya untuk tinggal sendiri. The Lesson: Biasanya yang menerapkan model begini orang barat. Anak-anak yang sudah bisa menghasilkan uang akan tinggal sendiri, malahan mereka malu kalau masih tinggal bersama orang tua. Sayangnya di Indonesia hal ini tidak diaplikasikan. Indonesia menganut sistem kekeluargaan yang erat, jangankan anak jauh dari orang tua…kebanyakan malah saudara kalau bisa tinggal berdekatan. Is it a good thing or bad thing? see, two sides and its your choice.

6. Terakhir, Gajah makan 16jam x sekali. Senangnya jadi gajah, ga perlu ada breakfast, lunch dan dinner. Lumayan waktunya buat tidur.

 

Either you wanna learn from these Elephant thingy or not, it is your call.

remember, two sides!

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s