Torment Coffee and A Life

Siang tadi saya menyempatkan diri ke salon langganan untuk meni, pedi, sekaligus luluran setelah sekian lama tidak sempat merawat diri. berhubung kamar untuk lulurnya masih full jadi saya di meni pedi dulu. Sebetulnya saya tidak terlalu suka membaca majalah saat di salon karena biasanya majalah itu sudah basi, namun hari ini saya tidak punya pilihan. Saya yang tengah berpuasa tidak mau me-refresh timeline berulang kali di UberTwitter Blackberry saya yang ujung-ujungnya bikin dosa karena dalam hati sebel baca tweet orang-orang yang terkadang terlalu lebay (atau saya yg terlalu sensitif?). hmm, yang jelas siang ini saya lagi ga ada mood baca kicauan orang-orang dan lebih memilih baca majalah basi.

Tabloid pertama yg dikasih capsternya bersampul Ariel, I put it down straight away! Bosen banget baca berita itu terus. Selanjutnya sebuah majalah dengan Dian Sastro sebagai covernya, langsung menarik hati deh. Selang beberapa menit kemudian, sudah saatnya saya di Menicure, yang artinya siap-siap baca majalah pakai satu tangan. Tentu susah, makanya saya memutuskan untuk membaca cerpen yang ada di halaman belakang, biar lama ngebolak-baliknya. Tak disangka-sangka ceritanya begitu menarik, analogi yang cukup membuat saya bergumam “iya juga ya…”

Ceritanya ada seorang wanita bernama… hmm, sebut aja Clara ya. maaf saya memang pelupa, padahal baru beberapa jam yang lalu bacanya. Nah, si Carla ini menikah dengan Adam (standar banget karangan nama saya Adam, haha. Ok, we won’t talk about it). Mereka pergi ke sebuah Café yang baru buka untuk merayakan hari jadi pernikahannya yang ketiga. Di situlah mereka berkenalan dengan sang pemilik yang sangat ramah & setia mendengarkan keluh kesah pengunjungnya, wanita ini bernama Sylvia (ini nama betulan dari cerpen itu, satu-satunya yang saya ingat). Karena keramahan Sylvia, turned out Adam jadi sering ke Café itu untuk curhat dan akhirnya Adam ingin menceraikan Carla. Carla mendatangi Sylvia ke Cafenya dan menceritakan semua permasalahannya, dia juga tau kalau Adam sering datang menemui Sylvia. Sylvia tidak langsung berang ditudug seperti itu, dia malah menawarkan Carla minuman baru, racikannya sendiri. Its called Torment coffee. Setelah dicicipi Carla tidak mau meminumnya lagi karena rasanya sama sekali tidak enak! Jahenya begitu pedas, susunya terlalu kenta dan kopinya malah tidak terasa.

Sylvia  lalu bertanya, “tidak enak ya? jadi, kamu tidak mau menghabiskannya?”

“tidak. Maaf  Syl, rasanya ga enak” Jawab Carla

Sylvia dengan tenang berkata “begitulah pernikahanmu, tidak enak! makanya kopi itu ku beri nama Torment, menyakitkan. Sekarang tinggal kamu yang menentukannya, kamu mau menghabiskannya atau cukup sampai di sini”

DANG! Begitu membaca kalimat (kira-kira) seperti itu, saya langsung berpikir bahwa analogi ini lumayan juga. Terkadang kita mengahadapi situasi yang tidak enak, terjebak diantara banyak pilihan dengan segala konsekuensinya. At the end, it’s our call to decide the best choice. Pilihan yang tidak enak dalam hidup itu seperti kopi pahit. Kita mau melanjutkan ‘kepahitan’ itu dengan menenggaknya sampai habis atau mengacuhkannya begitu saja.

Menurut saya, tipe yang pertama, adalah tipikal orang yang masih penasaran, mau tahu sampai dimana sih rasa pahitnya. They don’t wanna die wondering ‘what if…’. Saya selalu berpikir bahwa orang-orang dengan tipe ini adalah orang yang mempunyai kesabaran tingkat tinggi. Juga sangat murah hati karena memberikan banyak kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya kepada orang lain yang telah menyakitinya. But sometimes, some people, aren’t worth the wait anymore.

Untuk tipikal kedua, yang memutuskan tidak meminumnya, dia tidak mau merasakan kepahitan. Orang-orang inilah yang memutuskan move on from anything that ruined their lives. Mereka tidak mau bertele-tele terhadap suatu masalah dan tidak mau memberikan kesempatan berkali-kali. Bisa dibilang, “kalau tidak suka untuk apa diteruskan?”. Saya sangat salut untuk orang-orang tipikal ini. Mereka berani move on, berani mencoba hal baru. Masalahnya, tidak mudah untuk memutuskan suatu hubungan. Tidak mudah memunculkan keberanian untuk memutuskan suatu hubungan.  Tapi apapun keputusan yang Anda ambil dalam hidup, ingatlah bahwa pada saat itu Anda merasa hal itu yang terbaik, and was the best thing to do. Someone said:

“Never, ever, regret something that made you smile”

Advertisements

2 thoughts on “Torment Coffee and A Life

  1. Everything in this world is never smooth, sometimes u need to drink up those Torment coffee and if u do that u’ll see glow of the sun. Because u just solve one of your problems. Nice post tri.. =) Kapan makan siang bareng? hehe

    “There is no reason not to follow your heart. Your time is limited. Don’t waste it living someone else’s life ~ Steve”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s