Korupsi kasat mata, Pemanasan Global nyata.

Kedua mata saya masih terpejam dengan indahnya. Dan saru terdengar suara Mama  yang mengingatkan akan kelas saya pagi ini. Ya, di hari Anti Korupsi Sedunia yang kabarnya akan ada demo yang mengakibatkan macet dimana-mana, saya pagi-pagi betul harus berangkat ke kampus. Saya mencoba mengumpulkan nyawa  dengan susah payah dan berharap sudah sangat terlambat untuk berangkat ke kampus. Berharap saya sangat sangat terlambat. Tapi ketika melihat jam, ternyata masih ada 2 jam lg. zzzzz

Jadilah dengan mau tidak mau dan sangat terpaksa, menyeret tubuh saya yang sudah dibalut baju terjelek saya. Saya memang sengaja menggunakan baju terjelek saya hari ini, juga mengenakan tas punggung yang baru sekali seumur hidup saya pakai ke kampus.

Berita tentang pengalihan jalan dimana-mana sebetulnya membuat saya getir juga, apalagi di saat telat begini. Tapi ternyata, lalu lintas pagi ini, selancar hari minggu saat car free day. Saya tertawa sendiri mengingat teman-teman saya yang sudah panik duluan sedari malam karena mendengar berita pengalihan jalan dimana-mana dan memutuskan untuk tidak kuliah pagi ini. Walaupun iya, macet dan pengalihan jalan dimana-mana, lalu kenapa? Bukankah kita, warga Jakarta, sudah terbiasa dengan lalu lintas yang padat bahkan hampir terlihat seperti sedang parkir? Apalagi bila yang sering melintasi jalan protokol, sudah terbiasa melihat pengalihan jalan demi membiarkan para pejabat kita melintas bagai kilat. Dan memang yang dikabarkan akan di alihkan adalah jalan protokol. Jadi, tidak ada yang berubah dengan hari-hari sebelumnya. Ngeri akan kerusuhan? Nah, untuk bahaya-bahaya semacam ini, kan ada polisi yang sudah bersiaga juga. Seringnya kepanikan dini mengakibatkan kita sangat tidak rasional memang. Semoga lain kali, jangan cepat percaya dengan isu.

Pukul sebelas saya melewati ‘tempat keramat’ yang banyak orang sebut sarangnya demo. Lalu lintas tetap lancar, agak tersendat, itu pun karena para pengendara yang melambatkan kendaraannya demi menonton para demonstran yang berorasi di seputaran bundaran HI. Di tengah isu-isu kerusuhan, dan kemacetan, tempat apa yang paling aman yang di cari oleh masyarakat? Mungkin, mereka-mereka yang dengan mudahnya percaya isu itu bersembunyi di bawah atap rumah mereka dan memantau perkembangan demo ini lewat  layar kaca. Bukan keputusan yang salah. Itu adalah tempat teraman, ternyaman dan terdamai mereka saat itu. Lalu, kemana saya dengan tas punggung dan baju terjeleknya?

Pasar Senen. Pertama dan terakhir kali saya datang kesini sekitar 2 tahun yang lalu. Saat itu masih lapak-lapak gelap, lembab, yang sangat pengap.itu pun saya tidak membeli apa-apa. Kali kedua, adalah hari ini. Saya sudah merencanakan ini sejak lama dengan teman sekelas dan akhirnya terkabul saat dimana orang-orang lebih memilih tidak kemana-kemana. Seperti yang telah saya sebutkan di postingan sebelumnya bahwa saya yang aneh memang menarik hal-hal aneh, termasuk ide ke Pasar Senen di tengah isu kerusuhan.

Tempat nya kini lebih bersih dan teratur, namun yang tak bisa dihindari dan membuat saya tidak enak adalah saya bersin beberapa kali. Lapak pertama yang saya datangi membuat saya gelap mata dan menawar dengan sangat sinting hingga ibu penjualnya mengira saya sering dan biasa pergi ke sini. Hahaha. yang penting saya dapat harga yang sangat sangat memuaskan :D. Di lapak kedua saya kurang beruntung dalam tawar menawar harga atau mungkin mas-mas nya yang pelit :p . Lapak ketiga, adalah favorit saya. Favorit karena Ibu ini sangat baik dan MENAKJUBKAN! Sempat terjadi tawar menawar dan saya sukses kali ini. Tapi beliau minta di doakan agar cepat laris dagangannya dan sebagai gantinya dia mendoakan saya dan urusan kuliah saya. Sangat keibuan sekali. Terakhir kali orang yang sering bilang hal itu dengan tulus adalah Nenek saya. Dan setelah 4 tahun sejak kepergiannya, Ibu ini yang dengan tulus mendoakan saya. Saya bukannya terbuai dengan kata-kata seorang penjual agar barang dagangannya cepat laris, tapi tentu saya bisa membedakan ketulusan atau komersil. Begitu dia ingin memberikan barang yang saya beli, Ibu itu bilang “ga usah pake plastik ya neng, kan pemanasan global”. Saya bengong. Melongo. Diam. Betul-betul seperti anak SD di beri tugas statistik. “bukannya kita yang penjual ga mau beli plastik terus ga ngasih ke yang belk, tapi kita kan harus peduli sama pemanasan global. Harus di mulai dari diri sendiri” lanjut Ibu itu tanpa saya tanya! Akhirnya saya mengiyakan tidak menggunakan plastik dan membuka tas saya untuk memasukkan barang tersebut. Si Ibu melirik isi tas saya dan bilang “tuh kan neng, harusnya tadi eneng juga belanja ga usah pake plastik. Kan bisa langsung masukin ke tas. Kalo perlu bawa tas sendiri. Lagian ngapain sih plastik banyak-banyak. Mending kalo di pake, sampe di rumah juga di buang kan?”. Saya tersenyum dan memuji Ibu itu yang sangat peduli dan mengerti tentang masalah pemanasan global. “saya aja sampe punya 2 tempat sampah tuh” imbuhnya lagi. “oh Ibu pisah-pisahin sampah kering sama basahnya?” saya bertanya takjub. “iya neng, kan semua harus di mulai dari diri sendiri. Pedagang sini juga udah banyak yang kaya gitu” jelasnya. Waahhh, saya takjub sekali. Ibu ini benar-benar melek berita. Bahkan bukan berita pada umumnya. Bahkan sampai saat saya berpamitan dan berterimakasih, Ibu itu masih setengah berteriak mendoakan saya.

Ingatan saya melayang pada komunitas yang dulu saya ikuti. Namanya Teens Go Green. Biasanya sebulan sekali kita berkumpul untuk membahas masalah-masalah pemanasan global. Namun karena saya sudah sibuk dengan urusan kuliah jadi sudah tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan serupa. Beberapa hari yang lalu saya sempat googling tentang perkembangan komunitas ini, tapi sepertinya sudah tidaj terdengar gaungnya lagi. Padahal ini komunitas resmi yang di buat oleh Bapak Fauzi Bowo.

Dan kembali saya ingat pada saat ini. Saat masyarakat tengah berdemo tentang korupsi, seorang Ibu penjual pakaian di lapak Pasar Senen yang pengap tengah bercerita pada saya bagaimana dia peduli tentang pemanasan global. Tampaknya para penjual di lapak ini lebih tertari menjaga lapak mereka dan berteriak “mana uang…” atau “boleh di liat-liat”, dibandingkan berdiri di bawah panas terik ibukota dan berteriak-teriak, entah apa. Seperti yang dikatakan oleh Uda Uncu, penjual tas di salah satu lapak pasar itu, “di HI biarin demo korupsi, kita demo tas aja”. Dan di sahut lagi oleh kawan di seberang lapaknya “kita orang Bogor, biar tekor, asal kesohor..”

Fakta yang saya pelajari, masih banyak masyarakat yang lebih peduli urusan duniawi daripada alam yang mereka tinggali. Pada kasus korupsi, kebanyakan kita tidak tahu siapa dalangnya dan apa permasalahan yang sebenarnya. Sementara pemanasan global lebih nyata, tidak kasat mata. Sudah jelas dimana dan apa sebabnya. Banyak hal yang memang membuat saya  tidak menyukai aksi demo. Kesempatan untuk mengalihkan pikiran dari aksi demo ke masalah pemanasan global seperti sesuatu yang memabukkan. Ketika ‘mabuk’, kita melupakan masalah saat ini dan berenang bebas menyelami pikiran lain.

Sudah lah puas berbelanja, bertemu dengan para penjual yang ramah dan satu Ibu yang menakjubkan, membuat saya sama sekali tidak mengeluh tentang aksi demo hari ini. Rasanya seperti sedang bertenggang rasa dengan menyilakan orang lain menyantap makanan di saat saya tengah berpuasa. Ketika buka puasa tiba, tidak ada lagi yang berbeda. Kita dapat menyantap makanan bersama.

Ps: teman-teman jangan kalah sama si Ibu menakjubkan ini ya, kita juga harus lebih peduli terhadap masalah pemanasan global yang nyata, dibanding kasus korupsi yang kasat mata. Semua harus di mulai dari diri sendiri!

Advertisements

4 thoughts on “Korupsi kasat mata, Pemanasan Global nyata.

  1. baik korupsi maupun pemanasan global, harus mendapat perhatian ekstra.
    ngomong2, apa persamaan korupsi dan pemanasan global? keduanya berawal dari api yang ketahuan karena ngga bisa nyembunyiin asapnya. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s